Syaikh Nazim Al-Haqqani Pemimpin Naqshabandi

Mehmet Nazim Adil, Muhammad Nazim El-Hakkani dilahirkan pada 21 April 1922, lebih dikenal sebagai SHEIKH Nazim, adalah seorang SUFI TURKI kelahiran SIPRUS TURKI, Pemimpin dari Majelis NAQSHABANDI YANG MULIA. Beliau juga dikenal dengan nama-nama kehormatan, sebagai Sultan-al Awliya Sheikh Mawlana as-Sayyid Khwaja Muhammad Nazim Adil al Haqqani al-Rabbani al-Qubrusi al-Firdausi an-Naqshbandi. Beliau lahir di Larnaca, Cyprus yang dikenal sebagai Kibrisi Cypriot. Beliau mewarisi garis keturunan dari Sufi Abdul Qadir Jilani di abad ke-11 dan Sufi dari Anatolia, Jalaludin Rumi di abad ke-13. Sementara Kakek dari garis Ayah dan Ibunya adalah para Sheikh dari Tarekat Qadiri dan Mevlevi.

Semasa kecil, Sheikh Nazim muda menunjukkan kecenderungan menuju ke spiritualitas. Ayah Beliau mengirimnya ke sekolah untuk mempelajari pengetahuan sekuler di siang hari dan di malam hari Sheikh Nazim mempelajari tentang Islam di maktab lokal, yaitu tentang dasar-dasar hukum Islam, Hukum melalui Peradilan, Hadits, dan penafsiran Al Quran.

Sheikh Nazim adalah Pemimpin Spiritual dari Rantai Emas Naqshbandi. Beliau juga
Pemimpin dari Perintah Sufi Naqshbandi Haqqani. Beliau juga telah menulis banyak
buku, beberapa di antaranya telah diterbitkan oleh Dewan Tertinggi Islam Amerika.

Setelah menyelesaikan sekolah menengah di tahun 1940, pada usia 18 tahun Sheikh
Nazim muda pindah ke Istanbul, tempat kedua kakak laki-laki dan kakak perempuannya berada. Sheikh Nazim mempelajari Teknik Kimia di Universitas Istanbul. Sambil memajukan studi non-agamanya, Sheik Nazim melanjutkan pendidikannya di
bidang Teologi Islam dan Bahasa Arab di bawah pengawasan Sheikh Cemalettin
Elassonli. Sheikh Nazim mendapatkan Gelar di bidang Teknik Kimia dan beliau unggul di antara teman-teman kuliahnya. Namun demikian, Beliau kemudian mengatakan, “Saya tidak tertarik dengan ilmu pengetahuan modern. Hati saya selalu tertarik terhadap ilmu-ilmu spiritual.”

Sheikh Nazim kemudian menjadi seorang ahli Bahasa, tidak hanya bahasa ibu, yaitu
bahasa Turki tapi juga bahasa Arab, bahasa Inggris dan bahasa Yunani. Di tahun pertama Beliau tinggal di Istanbul, Sheikh Nazim bertemu dengan Pemandu Spiritual nya yang pertama, Sheikh Suleyman Erzurumi, seorang Murshid dalam Tarekat Naqshbandi. Sheikh Nazim menghadiri pertemuan-pertemuan dari Sheikh Suleyman ini yang diadakan di Masjid Sultan Ahmed. Di sini Beliau mempelajari metode-metode dåsar dari Tarekat Naqshbandi, sebagai tambahan dari Tarekat Qadiri dan Mevlevi. Fokusnya dalam kerohanian selanjutnya diperkuat dengan adanya peristiwa Kakak laki-laki beliau
meninggal dunia secara mendadak. Tidak lama setelah mendapatkan Gelarnya, Sheikh Nazim mendapatkan inspirasi untuk pergi ke Damascus dengan tujuan bertemu Pimpinan Tarekat Naqshbandi yang terkenal, Sheikh Abdullah al-Fa’izi ad-Daghestani. Beliau mendapatkan izin dari Sheikh Erzurumi untuk meninggalkan Istanbul dan tahun 1944 Beliau mendarat di Syria, meskipun kerusuhan yang disebabkan oleh Pemerintah Perancis Vichy menghalangi Sheikh Nazim untuk masuk Damascus hingga tahun 1945.

Saat bertemu Sang Guru di tempatnya di lereng Jabal Qasyoun, Sheikh Nazim mengambil bay’ah. Kemampuan supernatural dari Sheikh Nazim muda terbukti dengan sendirinya dan Beliau mencapai kemajuan di sepanjang jalan Sufi dengan sangat cepat. Tidak lama kemudian, Sheikh Abdullah Daghestani memerintahkan Sheikh Nazim untuk kembali ke tempat beliau berasal di Cyprus untuk menyampaikan bimbingan spiritual. Sheikh Abdullah juga memberikan gelar ‘Sheikh’ kepada Sheikh Nazim, dengan demikian memberikan legitimasi untuk berbicara atas nama Tarekat Naqshbandi.

Ketika di Cyprus, Sheikh Nazim mendapatkan conflict dari Pemerintahan Pro-Ataturk dari Komunitas Turki yang berada di pulau Cyprus tersebut. Tindakannya yang berulang kali membuat Adhan dalam bahasa Arab dan bukannya dalam bahasa Turki, telah membawa beberapa gugatan hukum dan ada sekitar 114 kasus yang diajukan kepadanya untuk kejahatan terhadap perintah sekuler. Namun demikian semua ini jatuh tak lama dengan datangnya kekuatan dari Adnan Menderes di Turki, yang Pemerintahnya memilih pendekatan yag lebih toleran kepada tradisi Islam.

Sheikh Nazim pindah kembali ke Damascus di tahun 1952, ketika Beliau menikah dengan anak perempuan dari murid Sheikh Abdullah Daghestani, yaitu Amina Adil (1929-2004), yang keluarganya menetap di Syria setelah melarikan diri dari pemerintahan Soviet dari tempat asal mereka di Kazan. Sejak saat itu, Sheik Nazim menetap di Damascus dan setiap tahun akan mengunjungi Cyprus sedikitnya tiga bulan. Pasangan ini memiliki dua anak perempuan dan dua anak laki-laki.

Misi Pekerjaan di Seluruh Dunia

Di tahun 1973 setelah meninggalnya Sheikh Abdullah Fa’izi ad-Daghestani , Sheikh Nazim mulai mengunjungi Eropa Barat, melakukan perjalan setiap tahun dari Timur Tengah hingga London. Dalam perjalan pulang kembali ke Damascus, Beliau sering mengendarai mobil melalui negara yang dulu dikenal sebagai Yugoslavia, mengunjungi komunitas Muslim di sana. Hal itu menjadi kebiasannya untuk menghabiskan bulan Ramadhan di Pusat Komunitas Muslim yang didirikan di London. Namun di tahun 2000 kebiasaan Beliau ini tidak dilanjutkan kembali.

Di tahun 1991, Sheikh Nazim mengunjungi Amerika untuk pertama kalinya, atas
undangan menantu dan wakilnya, Sheikh Hisham Kabbani. Pada saat itu, Maulana
Sheikh Nazim melakukan Tour yang pertama dari 4 negara, di mana selama perjalanan Beliau tersebut, ribuan orang memeluk agama Islam. Tahun 1996, Sheikh Nazim adalah Tamu Kehormatan pada Konferensi Persatuan Islam Internasional yang pertama di Los Angeles, California. Lebih dari 8000 orang menghadiri Konferensi ini, termasuk Ulama-ulama Islam dari seluruh dunia dan yang memiliki fokus terhadap Spiritualitas Islam. Sementara berada di Amerika, Sheikh Nazim memberikan pidato dan tausiah dan mengadakan pertemuan dzikir di sejumlah tempat termasuk Gereja, Kuil, Universitas, Mesjid, dan Pusat-pusat Zaman Baru yang dihadiri banyak orang.

Di tahun 1997, Sheikh Nazim mengunjungi Daghestan, kampung halaman dari Murshid Beliau, Sheikh Abdullah Fa’izi ad-Daghestani. Sheikh Nazim juga beberapa kali mengunjungi Uzbekistan untuk ziarah ke makam pendiri Tarekat Naqshbandi, Shah Baha’uddin Naqshband.

Tahun 1998, Sheikh Nazim kembali menjadi Tamu Kehormatan pada Konferensi
Persatuan Islam Internasional Kedua yang diadakan di Washington DC. Konferensi ini dihadiri oleh lebih dari 6000 orang, dengan puncak konferensi ini adalah ketika Sheikh Nazim mengangkat issue penolakan Terorisme di hadapan 160 Ulama Islamic dan orang-orang penting dari seluruh dunia, termasuk Mufti Besar dari Mesir, Russia dan negara sekitarnya, dan pejabat tinggi dari Malaysia, Indonesia, Timur Tengah dan Afrika. Kemudian pada tahun 1998 juga, Sheikh Nazim melakukan perjalanan ke Afrika Selatan ditemani oleh Sheikh Hisham Kabbani dan rombongan murid-murid dari seluruh dunia. Beliau mengunjungi Cape Town, Johannesburg dan Durban, di setiap kota Beliau memberikan kuliah di mesjid-mesjid yang dihadiri oleh banyak orang sehingga mesjid tersebut penuh.

Di tahun 2001, Sheikh Nazim mengadakan Tour Dunia Timur Naqshbandi Haqqani dari Dunia Muslim ditemani oleh kedua anak laki-lakinya, Sheikh Mehmet Adil dan Haji Bahauddin dan menantunya Sheikh Hisham Kabbani juga dengan rombongan murid-murid. Perjalanan dimulai di Istanbul dari mana rombongan terbang ke Uzbekistan, kemudian Jepang, Singapur, Indonesia, Malaysia, Sri Lanka dan Pakistan. Dalam perjalanan ini Sheikh Nazim bertemu dengan orang-orang dari semua lapisan masyarakat, dari pejabat tertinggi, Pemimpin-pemimpin Negara hingga rakyat biasa. Sheikh Nazim, di samping usianya yang sudah cukup banyak, mampu mempertahankan jadwal yang luar biasa padatnya, mulai dari memberikan tausiah, ceramah, mengadakan pertemuan dhikr dan spiritual dengan sedikit istirahat, bahkan mungkin kadang-kadang tidak sempat selama 40 hari perjalanan dan menempuh jarak lebih dari 15.000 miles. Sheikh Nazim melakukan perjalanan terakhirnya ke Amerika di tahun 2000, ketika Beliau diundang untuk berbicara pada Konferensi Persatuan Bangsa-Bangsa mengenai Agama dan Spiritualitas.

Dergah dari Sheikh Nazim

Sheikh Nazim telah memiliki hubungan erat dengan beberapa Politisi terkemuka seperti Almarhum Presiden Turki, Turgut Ozal, begitu juga dengan Mantan Pemimpin Turki Cypriot, Rauf Denktas.

Dalam perjalanannya ke Asia Tenggara, Sheikh Nazim memberikan berkah spiritualnya kepada Yang Mulia Sultan Hassanal Bolkiah dari Brunei, Yang Mulia Sri Sultan Hamengkubuwono X dari Yogyakarta dan beberapa anggota keluarga Kerajaan Malaysia, termasuk Yang Mulia Pangeran Raja Dato’ Seri Ashman Shah yang telah berbay’at kepada Tarekat Naqshbandi Haqqani. Sheikh Nazim juga beberapa kali melakukan perjalanan ke India, Pakistan dan Sri Lanka di mana Beliau diterima dengan sangat meriah. Sheikh Nazim mengadakan perjalanan ke Mecca untuk berhaji sebanyak 27 kali. Sheikh Nazim jarang mengadakan perjalanan ke luar negeri lagi sekarang (ketika buku ini diterbitkan Beliau masih ada).

Sejak tahun 2010, Sheikh Nazim lebih sering berada di Dergah Pribadinya di kota Lefke, Cyprus Utara di mana masih sering sekali dikunjungi oleh banyak murid-muridnya setiap minggu, ratusan murid Yang datang dari segala penjuru dunia.

Diterjemahkan oleh iws/05/2020
Dari Buku Liberating the Soul, A Guide for Spiritual Growth oleh Shaykh Nazim Adil al-Haqqani.
Penerbit Islamic Supreme Council of America