Tentang Mawlana Syaikh AbduLLAH ad-Dhagistani

Suhbah Syaikh Mehmet Adil Al-Haqqani pada 20 Mei 2018.

BismiLLAAHir Rahmaanir Rahiim

AsSalāmu ‘alaykum wa raḥmatuLLAAHi wa barakātuh.
A‘ūdzu biLLAAHi minasy syaiṭhānir rajīm. BismiLLAAHir Rahmaanir Rahiim. Aṣh-Shalātu was Salāmu ‘alá Rasūlinā Muḥammadin Sayyidil awwalīna wal ākhirīn. Madad yā RasūlaLLAAH, madad yā Sādāti Aṣh-ḥābi RasūliLLAAH, madad yā Masyāyikhinā, dastūr yā Syaikh ‘AbduLLAAH al-Fā’iz ad-Dāghistānī, Syaikh Muḥammad Nāẓim al-Ḥaqqānī. Madad.

Ṭharīqatunāṣ ṣuḥbah wal khayru fil jam‘iyyah.

Dari suhbah yang disampaikan dalam Bahasa Turki:

Hari ini merupakan hari keramat bagi kita. Semoga DIA terus menerus mencurahkan rahmat-NYA kepada kita di bulan suci [Ramadhan] ini. Sekarang kita berada pada hari ke-5 Ramadhan. Di bulan Ramadhan ini GrenSyaikh ‘AbduLLAAH ad-Daghistani wafat di tahun 1973. Ketika itu pada hari ke-3 Ramadhan. Tapi Ramadhan pada saat itu ada di bulan Oktober. Di bulan Oktober itulah GrenSyaikh Effendi berpulang ke alam akhirat. ‘Urs Beliau, yakni memperingati hari wafatnya Beliau juga di awal Ramadhan. GrenSyaikh ‘AbduLLAAH ad-Daghistani.

Saya menduga bahwa yang hadir di sini, mungkin hanya satu atau dua orang yang pernah jumpa dengan Beliau. [Meskipun begitu] Yang lainnya mengenal GrenSyaikh dengan baik. Bagaimana mereka bisa tahu tentang Syaikh ‘AbduLLAAH ad-Daghistani? [Mereka mengetahuinya] Dari Syaikh kita, Mawlana Syaikh Nazim. Beliaulah yang selalu menceritakan perihal GrenSyaikh ‘AbduLLAAH ad-Daghistani, yakni tentang apa-apa saja yang Beliau lakukan, ucapan-ucapan Beliau, dan keadaan-keadaan yang Beliau alami. Dengan cara inilah orang merasa kalau mereka seolah telah pernah berjumpa langsung dengan GrenSyaikh [‘AbduLLAAH ad-Daghistani]. Hal ini karena [aspek] spiritualitas dari orang-orang besar [yakni para Awliya ALLAAH yang utama] sangatlah besar. Mereka [para Awliya ALLAAH] hidup didunia ini untuk menolong [umat manusia]. Mereka juga datang mendekat kepada orang-orang yang mencintai mereka. Himmah mereka tercurah dalam pertemuan-pertemuan di mana nama-nama mereka disebut.

GrenSyaikh [yakni dari kata “GrandSyaikh”], “Grand” di sini berarti bahwa Beliau adalah seorang Awliya’ yang utama [yakni seorang Wali ALLAAH yang berkedudukan tinggi]. Beliau adalah Sultanul Awliya’. Sultan dari para GrenSyaikh. Keadaan [yakni ‘haal’] Beliau, juga manifestasi Beliau berbeda dari Syaikh Mawlana [yakni Mawlana Syaikh Nazim QS]. Beliau selalu dalam keadaan khalwat, dalam keadaan ‘uzlah [yakni menyendiri] yang terus menerus. Beliau telah menyelesaikan beberapa kali khalwat [yakni melakukan ‘suluk’], ada yang selama lima tahun penuh, juga yang selama satu tahun, dan yang satu lagi selama enam bulan. Dan khalwat yang Beliau lakukan bukanlah khalwat yang mudah, tapi khalwat yang berat untuk dilakukan.

Beliau selalu berada di dalam dergah [yang juga merupakan rumah kediaman Beliau] di akhir-akhir masa hidupnya. Sangat jarang Beliau pergi keluar dergah. Beliau selalu berada di dalam dergah . Sang Wali ALLAAH ini keluar dari kamarnya di pagi dan sore hari untuk memberi suhbah [dan menemui orang-orang yang mendatangi Beliau]. Durasi suhbah nya cukup panjang. Beliau memberi suhbah dalam Bahasa Turki atau bahasa Daghistan. Ada beberapa murid yang menterjemahkannya [Catatan: dari suhbah yang disampaikan dalam Bahasa Inggris, Syaikh Mehmet mengatakan bahwa penterjemah terbaik adalah Mawlana Syaikh Nazim. Sangat sangatlah baik hasilnya ketika Mawlana Syaikh Nazim yang menterjemahkan suhbah Beliau. Sesekali ada juga orang lain yang menterjemahkan, tapi terjemahan terbaik adalah yang dilakukan oleh Mawlana Syaikh Nazim]. Beliau biasanya berbicara dalam bahasa Avar, yakni bahasa dari daerah Daghistan. Mereka kemudian menterjemahkannya ke Bahasa Arab. Terkadang suhbah disampaikan dalam waktu dua jam, dan sesekali Beliau memberi suhbah selama tiga jam. Lalu Beliau lanjut makan malam, kebanyakan waktu makan malam Beliau lakukan bersama dengan para tetamu. Beliau biasanya makan malam setelah shalat Asar.

Setelah masuk waktu Maghrib, Beliau tidak akan menemui siapapun. Beliau mengatakan bahwa Beliau mengerjakan kewajibannya. Beliau shalat maghrib dan ‘Isya sendirian. Hal ini karena ketika itu usia Beliau sudah sepuh. Di hari Jumat, Beliau memimpin shalat, setelah itu memberi suhbah dan melaksanakan dzikir Khatm Khwajagan. Baru setelah itu Beliau turun [ke lantai bawah di rumahnya]. Dalam kesehariannya, Syaikh Nazim Effendi yang menjadi imam shalat baik di masjid maupun di dergah.

Sebagaimana yang telah kami katakan sebelumnya, ‘keadaan’ [yakni “haal”] Beliau berbeda. Beliau tidak mau menerima tamu di waktu setelah shalat Maghrib. Beliau tidur setelah shalat ‘Isya, untuk kemudian bangun di malam hari dan beribadah di malam hari sendirian [tidak berjama’ah]. Beliau membuat teh sendiri, kemudian shalat Tahajjud [yakni ibadah qiyamul layl] dilanjutkan dengan shalat Subuh dan terus hingga waktu dluha. Di waktu pagi hari Beliau bersama keluarga. Setelah itu, baru Beliau menemui para tamu dan murid pada waktu Dzuhur dan Asar hingga menjelang Maghrib. Setelah Maghrib, Beliau tidak menemui siapapun.

Di masa hidup Beliau, dengan kekuatan dan karamah kewalian Beliau, tugas Beliau adalah “mencetak” [yakni membimbing dan menjadikan] para Awliya’ ALLAAH. Beliau sibuk dalam membesarkan Syaikh Mawlana Nazim. Beliau kurang begitu suka “berurusan” dengan orang banyak. Beliau tidak mau [terlalu banyak] membuka jadzbah (kekuatan untuk ‘menarik’ orang) yang Beliau miliki. Terkadang ketika Beliau membuka jadzbahnya maka dergah dipenuhi orang-orang yang datang berkunjung.

Karena ‘haal’ Beliau berbeda, maka para tetangga tidak mengenal Beliau sebagai seorang Syaikh Effendi [yakni sebagai seorang Syaikh dari suatu tarekat sufi]. Mereka memanggil Beliau ‘Haji’, yakni Haji ‘AbduLLAAH Effendi. Padahal, Beliau adalah seorang Sultanul Awliya’ Syaikh AbduLLAAH. Bahkan tetangga sebelah rumah Beliau juga tidak mengetahui ‘nilai’ Beliau yang sebenarnya. Dan karena Beliau selalu berada bersama [di dalam hadirat] RasuluLLAAH ShalaLLAAHU Alayhi wasSalaam, juga karena selalu berada di dalam Hadirat ALLAAH ﷻ, maka Beliau tidak pernah menaruh perhatian kepada siapa saja tetamu yang datang dan pergi [Beliau tidaklah peduli lagi akan urusan dunia atau tentang orang-orang lain – apakah mereka menerima atau tidak menerima Beliau].

Karena para Awliya’ masing-masing memiliki haal yang berbeda-beda, maka ALLAAH ﷻ memberikan kepada setiap mereka suatu keistimewaan tertentu. Kualifikasi mereka berbeda-beda. Akan tetapi, manifestasi mereka sama. Artinya, meskipun penampakan luar, keadaan [yakni ‘haal’] dan perbuatan mereka berbeda-beda, tetapi apa yang mereka pertunjukkan adalah sama. Dergah mereka semua juga sama persis. Ke dergah manapun engkau berkunjung, semua menunjukkan kesamaan [yakni dalam hal bentuk, lay-out ruangan, pernik-pernik hiasan, dan lain-lainnya], yang jejaknya bisa ditelusuri hingga ke Nabi Suci ShalaLLAAHU Alayhi wasSalaam kita. Karena setiap tempat [yakni dergah] itu ada pemiliknya. Dan pemiliknya menjadikan dergah itu sama sebangun dengan apa-apa yang ada sejak dulu [yakni sejak jaman Nabi ShalaLLAAHU Alayhi wasSalaam].

Semoga himmah Beliau sampai kepada kita. Kami [yakni Syaikh Mehmet] termasuk yang pernah menyaksikan karamah beliau. Ketika itu kami masih berusia anak-anak. Beliau berkata,”Tidak akan terjadi apa-apa [yakni walaupun terjadi peperangan] pada Syam [Damaskus – Syiria] selama aku masih hidup.” Berbagai peperangan terjadi setelah itu tapi sama sekali tidak menyentuh Syam. Di tahun 1973, hanya seminggu setelah Beliau berpulang, meletus perang besar [yakni antara negara-negara Arab melawan Israel]. Syam dan daerah sekitarnya hancur lebur. Tetapi karamah Beliau terus berlangsung. Ketika itu [yakni setelah pecah perang], seluruh daerah itu hancur, tiada tempat yang masih tersisa utuh. Hanya dergah itu yang masih berdiri.

Ke tempat itulah orang-orang datang berkunjung. Semua pengunjung dilayani dengan baik. Orang miskin maupun orang kaya semua datang kesana. Dengan himmah Beliau, dengan barakah Beliau, dengan kehendak ALLAAH, daerah itu tetap aman selamanya [walau terjadi perang besar dengan ISIS seperti yang terjadi baru-baru ini di Syiria yang menyebabkan hancurnya banyak kota-kota di Syiria – termasuk kota Damaskus – tetapi dergah dan sekitarnya selamat]. Sebagaimana yang kami katakan, karamah Beliau muncul ketika Beliau masih hidup dan muncul lagi sekarang ini. Ketika menemui kesulitan dan kita kemudian memohon himmah Beliau, dengan seijin ALLAAH, Beliau hadir [dan memberikan pertolongan].

Jangan pernah melupakan Beliau. Mintalah himmah dari para Awliya’, khususnya dari para Syaikh kita. Dengan seijin ALLAAH, mereka tetap memperhatikan [keselamatan] kita. Semoga himmah mereka terus tercurah atas diri kita, insyaa ‘a ALLAAH.

(Bagian dari suhbah yang disampaikan dalam Bahasa Inggris:
Catatan: karena banyaknya kesamaan dari suhbah yang disampaikan dalam Bahasa Inggris dengan yang dalam Bahasa Turki, maka hanya bagian-bagian tertentu saja dari Bahasa Inggris yang diterjemahkan.)

Kita merasa begitu dekat dengan Beliau, terasa setiap saatnya kita bersama Beliau. Bagaimana ini bisa terjadi? Kita merasa begitu dekat dengan GrenSyaikh padahal kita tidak pernah bertemu Beliau adalah karena Mawlana Syaikh Nazim yang selalu saja bicara tentang Mawlana Syaikh ‘AduLLAAH ad-Daghistani. Yakni Mawlana Syaikh Nazim biasa mengatakan “Beliau melakukan ini. Beliau mengatakan hal itu. Beliau berbuat yang seperti ini.” Sehingga kita merasa seolah kita bersama Beliau. Dan kita merasa begitu berbahagia bisa bersama seorang Sultanul Awliya’uLLAAH, yakni Sultanul Awliya’ Syaikh ‘AbduLLAAH ad-Daghistani. Beliau adalah benar-benar seorang yang sangat dicintai ALLAAH. Mereka yang sangat dicintai ALLAAH sangatlah jarang adanya. Salah seorang diantaranya adalah Mawlana Syaikh ‘AbduLLAAH ad-Daghistani. Kita mencoba untuk mengikuti jejak langkah Beliau.

Kita merasa dekat dengan GrenSyaikh juga karena Beliau mendatangi kita dengan menggunakan kekuatan ruhani Beliau, yakni ketika kita memanggil Beliau atau ketika kita meminta pertolongan Beliau, atau meminta barakah, Beliau selalu datang dan menolong kita. Beliau banyak memiliki karamah, baik semasa dalam kehidupan Beliau maupun dimasa setelah kemangkatan Beliau.

Sesekali Beliau berqurban dengan memotong kambing. Beliau memotong kambing dengan tangan Beliau sendiri. Tangan beliau sungguh sangatlah kuat. Meskipun ketika itu Beliau sudah berusia lebih dari delapan puluh tahun, Beliau masih mampu membawa seekor domba sendiri.

Para Awliya’ yang sejati merupakan orang-orang yang istimewa. Terutama yang harus kita fahami adalah jika kita mencintai mereka [yakni para Awliya’ ALLAAH] maka mereka juga mencintai kita dan mereka senang dengan kita. Ketika engkau mengikuti mereka, mereka tidak pernah marah kepadamu. Kalian bisa mendapat barakah dari mereka. Hendaknya kita meminta barakah dari mereka dan memohon perlindungan untuk semua kaum Mukminin, juga perlindungan untuk tarekat, dan mendoakan orang lain supaya mendapat hidayah.

Banyak orang yang berprasangka dan berbicara buruk tentang GrenSyaikh, mereka bahkan menyebarkan fitnah terhadap diri Beliau. Meskipun begitu, Beliau sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Beliau bahkan mengatakan,”Aku akan mengubah hal ini untuk mereka, aku memaafkan mereka, dan mengubah perbuatan jahat mereka menjadi kebaikan untuk diri mereka sendiri.” Beliau tidaklah mengatakan, “Aku membalas dendam kepada orang-orang itu. Aku akan menuntut mereka di Hari Pengadilan kelak atas apa-apa yang telah mereka lakukan pada diriku.” Tidak. Beliau tidaklah seperti itu. [Sebaliknya] Yang seringkali kami dengar dari Beliau adalah,”Apapun yang mereka katakan, apapun yang mereka perbuat untuk menyerang kami, insyaa ‘a ALLAAH, kami maafkan mereka dan kami memohon kepada ALLAAH untuk mengubah perbuatan jahat ini menjadi amal kebaikan, untuk menjadi pahala bagi mereka.” Inilah salah satu bentuk kebesaran jiwa Beliau. Ini hanyalah satu contoh saja dari jutaan kebaikan yang Beliau lakukan. Sangatlah sedikit yang bisa kami ungkapkan disini [yakni dalam waktu yang sangat singkat ini].

Semoga ALLAAH menjadikan maqam ruhaniyyah beliau semakin tinggi dan semakin tinggi lagi, insyaa ‘a ALLAAH, dan semoga kita bersama Beliau di dalam Jannah [surga], insyaa ‘a ALLAAH, untuk selamanya.

Wa minALLAAHit tawfīq, al-Fātiḥah.

(/sh)

About

Admin menerima naskah atau informasi suhbah untuk dapat dimuat di website. Silakan mengirim email ke: admin@sohbet.id  | 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*